REVIEW BUKU
Judul Buku : MUHAMMAD
Penulis
: Martin Lings (Abu Bakr Siraj
al-Din)
ISBN : 978-979-024-577-8
Penerbit
: PT SERAMBI ILMU SEMESTA
Editor:
Qomarrudin SF
(Penerjemah)
Terbit
: Zulqoidah 1436/September
2015 M
Tebal :
680 halaman
Kini banyak orang berpindah agama bukan karena motif-motif
spiritual; dan hal ini terjadi tak lama sebelum turunnya ayat berikut:
قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ
تُؤۡمِنُواْ وَلَـٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَـٰنُ فِى
قُلُوبِكُمۡۖ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ
أَعۡمَـٰلِكُمۡ شَيۡـًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ
Orang-orang
Arab Badwi itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah [kepada
mereka]: "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah
tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta’at
kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun [pahala]
amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Ayat
ini menyempurnakan hierarki Islam: tunduk tanpa iman adalah tingkatan terendah.
Tingkatan yang lebih tinggi adalah iman, yang merupakan tema-atau salah satu
tema-dari Ayat Cahaya yang diturunkan kepada Nabi beberapa bulan sebelum
perjanjian Hudaybiyah. Allah adalah cahaya, dan ini semakna dengan nama-Nya
Yang Mahabenar dan Yang Maha Mengetahui. Kebenaran adalah objek Pengetahuan,
dan keduanya adalah Cahaya, lawan dari kegelapan kesalahan dan kebodohan.
Cahaya itu satu, namun termanifestasi yang berbeda-beda: berbagai tingkat
hidayah yang terpancar dari kebenaran, dan berbagai tingkat keimanan yang
terpancar dari pengetahuan.
AL-Quran
tak henti-hentinya menyatakan bahwa dirinya dan semua pesan wahyu lainnya
adalah “cahaya”, bahkan Al-Quran dapat disebut kitab cahaya. Sebab kandunganya terus-menerus
memancarkan cahaya petunjuk dan cahaya keimanan dalam jiwa setiap manusia. Ayat
cahaya yang menggambarkan rangkaian wadah cahaya dari Ilahi dapat ditafsirkan
sebagai tingkat pencerahan.
Pertama,
ada maksiat yang dipancari cahaya, namun bukan cahaya itu sendiri. Lalu, ada
kaca kristal di atanya lagi kemilau minyak; dan terakhir adalah cahaya itu
sendiri. Pengungkapan simbol-simbol itu mengingatkan pada ayat lain yang
dimulai dengan kalimat yang sama, “Tuhan membuat berbagai perumpamaan bagi manusia”,
namun ditambah dengan alasan, “agar mereka mau berpikir”
Banyak
penafsiran Al-Quran termasuk musafir terdahulu, menuturkan bahwa misykat itu
adalah dada orang beriman, dan kaca adalah hatinya. Abd Allah ibn Abbas
meriwayatkan apa yang didengar oleh ayahnya dari Nabi sendiri, yang berkata, “Hidayah
Tuhan di dalam hati orang beriman adalah ibarat minyak murni yang berkilau
sebelum disentuh api, dan ketika disentuh api, kemilaunya bertambah-tambah.
Begitulah hati hingga pengetahuan datang kepadanya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar