Jumat, 29 April 2016

Review buku tentang "Muhammad"

REVIEW BUKU


Judul Buku :    MUHAMMAD
Penulis :           Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din)
ISBN :             978-979-024-577-8
Penerbit :         PT SERAMBI ILMU SEMESTA
Editor:             Qomarrudin SF (Penerjemah)
Terbit :             Zulqoidah 1436/September 2015 M
Tebal :             680 halaman






Kini banyak orang berpindah agama bukan karena motif-motif spiritual; dan hal ini terjadi tak lama sebelum turunnya ayat berikut:
قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّا‌ۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَـٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَـٰنُ فِى قُلُوبِكُمۡ‌ۖ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَـٰلِكُمۡ شَيۡـًٔا‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ 
Orang-orang Arab Badwi itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah [kepada mereka]: "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun [pahala] amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha


Ayat ini menyempurnakan hierarki Islam: tunduk tanpa iman adalah tingkatan terendah. Tingkatan yang lebih tinggi adalah iman, yang merupakan tema-atau salah satu tema-dari Ayat Cahaya yang diturunkan kepada Nabi beberapa bulan sebelum perjanjian Hudaybiyah. Allah adalah cahaya, dan ini semakna dengan nama-Nya Yang Mahabenar dan Yang Maha Mengetahui. Kebenaran adalah objek Pengetahuan, dan keduanya adalah Cahaya, lawan dari kegelapan kesalahan dan kebodohan. Cahaya itu satu, namun termanifestasi yang berbeda-beda: berbagai tingkat hidayah yang terpancar dari kebenaran, dan berbagai tingkat keimanan yang terpancar dari pengetahuan.
AL-Quran tak henti-hentinya menyatakan bahwa dirinya dan semua pesan wahyu lainnya adalah “cahaya”, bahkan Al-Quran dapat disebut kitab cahaya. Sebab kandunganya terus-menerus memancarkan cahaya petunjuk dan cahaya keimanan dalam jiwa setiap manusia. Ayat cahaya yang menggambarkan rangkaian wadah cahaya dari Ilahi dapat ditafsirkan sebagai tingkat pencerahan.
Pertama, ada maksiat yang dipancari cahaya, namun bukan cahaya itu sendiri. Lalu, ada kaca kristal di atanya lagi kemilau minyak; dan terakhir adalah cahaya itu sendiri. Pengungkapan simbol-simbol itu mengingatkan pada ayat lain yang dimulai dengan kalimat yang sama, “Tuhan membuat berbagai perumpamaan bagi manusia”, namun ditambah dengan alasan, “agar mereka mau berpikir”
Banyak penafsiran Al-Quran termasuk musafir terdahulu, menuturkan bahwa misykat itu adalah dada orang beriman, dan kaca adalah hatinya. Abd Allah ibn Abbas meriwayatkan apa yang didengar oleh ayahnya dari Nabi sendiri, yang berkata, “Hidayah Tuhan di dalam hati orang beriman adalah ibarat minyak murni yang berkilau sebelum disentuh api, dan ketika disentuh api, kemilaunya bertambah-tambah. Begitulah hati hingga pengetahuan datang kepadanya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar