Jumat, 29 April 2016

Peran Mahasiswa PAI UMY Untuk Memperbaiki Pendidikan Indonesia

Pengertian guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan. Sebelum memperbaiki pendidikan lebih layaknya kita untuk memperbaiki diri kita terlebih dahulu. Pribadi kita sebagai calon guru harus mempunyai pribadi yang bisa dicontoh. Itulah yang menjadi bagian terpenting dari seorang guru, yaitu teladan yang baik. Karena guru adalah seorang yang akan memberi banyak nasehat tidak hanya pada muruidnya tapi semua orang. Satu tindakan akan lebih baik daripada seribu nasihat. Jangan sampai kelakuan baik kita hanya terlihat di depan anak didik kita, sedangkan di belakang melakukan hal-hal yang tidak selayaknya seorang guru. Maka dari itu peran guru tidak semudah yang dibayangkan perlu komitmen kuat. Peran guru sangat krusial dalam kaitanya pembentukan generasi penerus bangsa. Ditengah gempuran arus globalisasi yang banyak membawa pengaruh negatif. Problem lain muncul ketika pendidikan yang ditempuh tidak membuat anak-anak menjadi dewasa dan segala permasalahan sosial, disini lah peran guru sangat dibutuhkan.
Sebagai seorang mahasiswa PAI kita harus tanggap terhadap hal-hal seperti ini. Kita harus mempunyai idealitas untuk memulai perbaikan pendidikan. Sekarang ini bukan waktunya mencari kambing hitam untuk permasalah pendidikan Indonesia. Melainkan mencari solusi dari permasalahan yang ada. Dimulai dari bangku kuliah mahasiswa PAI akan memulai perbaikan. Belajar serius adalah modal awal. Ilmu saat kuliah itulah yang nanti akan diterapkan. Guru agama di sekolah mempunyai tanggungan yang lebih berat daripada guru-guru yang mengampu pelajaran lainya. Karena tidak hanya pelajaran akademik saja yang harus disampaikan, namun akhlaq juga menjadi tanggungan. Bukan hanya mengajar namun mendidik. Mendidik anak tidak hanya pintar dari sisi kognitif saja melainkan yang lebih penting adalah afektif atau sikap. Karena tujuan akhir dari pendidikan adalah kedewasaan. Bagaimana dengan ilmu yang didapat, anak mempunyai bekal untuk menyikapi problema kehidupan.
  

Kembali ke permasalahan tadi, bagaimana pendidikan di Indonesia tidak mampu membuat anak menjadi dewasa. Menurut saya itulah yang menjadi pokok bahasan permasalahan pendidikan sekarang. Hal itu ditandai dengan masih banyaknya anak yang belum mengerti akan tanggung jawabnya. Jika kita belajar dari umat terdahulu yaitu seorang Muhammad Al-Fatih sang pembebas konstantinopel, beliau menjadi pemimpin pasukan perang umat Islam melawan pasukan Salib di usia yang masih belia. Kemudian ilmuwan-ilmuwan muslim seperti Ibnu Rus sudah mempunyai karya di usia yang masih belia juga. Artinya pendidikan kala itu bisa menjadikan anak matang atau dewasa pada waktunya. Maka dari itu dengan bekal agama, kita sebagai calon guru agama bisa menerapkan nilai-nilai Islam yang benar dalam pendidikan. Sehingga bisa mencapai tujuan pendidikan, yaitu kedewasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar